
Ini persimpanganku yang ke sekian kali. Selalu ada hal yang sama di setiap persimpanganku itu. Pilihan antara apa yang harus aku lakukan dan apa yang ingin aku lakukan. Hal yang sama tetapi masih membuatku takut untuk melangkah. Langkah ini masih terlalu rapuh untuk mulai menapaki apa yang ingin aku jalani. Diri ini masih terlalu nyaman oleh belaian mimpi-mimpi yang tak berujung. Mimpi-mimpi yang tak tau kapan dan bagaimana itu bisa terwujud. Ya, saat mimpi itu ingin kita wujudkan, hal yang paling pertama harus dilakukan adalah bangun, bangun dari mimpi itu dan hadapi ia di dunia nyata. Di dunia yang kejam, yang tak seindah dunia mimpi. Dunia yang kejam yang bisa mengancam keberadaan mimpi. Atau bahkan bisa membunuh mimpi-mimpi itu demi memilih untuk bisa bertahan hidup. Hidup memaksa kita untuk memilih. Memilih untuk bertahan atau kalah. Atau memilih untuk memenangkannya. Menang atas segala keputusasaan yang membuat hidup semakin terpuruk. Berjuang untuk menang. Berjuang untuk mencapai tujuan. Mimpi adalah salah satu tujuan hidup. Seperti apa mimpi kita? Bagaimana mimpi itu bisa terwujud? Kapan kita bisa mencapai mimpi kita itu? Disetiap pertanyaan terdapat pilihan. Apakah kita ingin menggapainya dengan cara aman atau beresiko tinggi. Apakah kita ingin menggapainya dengan berlari atau berjalan perlahan. Apakah kita ingin menggapainya dengan jalan yang lurus atau memutar. Itu semua tergantung tekad dan keberanian. Keberanian untuk mengambil resiko, berlari, dan terus melaju kedepan. Atau hanya berani mencari cara aman, perlahan, dan dengan jalan yang memutar untuk sampai ke tujuan. Itu semua pilihan. Setiap detik di hidup ini adalah pilihan. Pilihan untuk menang atau kalah.